Sunday, May 1, 2011

Daulah Abbasiyah: Al-Mustakfi Billah, Di Bawah Bayangan Panglima

Nama aslinya Abdullah bin Al-Muktafi bin Al-Mu'tadhid (944-946 M). Ibunya seorang mantan budak bernama Amlahunas. Dalam sejarah, ia dikenal dengan sebutan Al-Mustakfi Billah atau Abul Qasim.

Al-Mustakfi dilantik sebagai Khalifah Bani Abbasiyah ke-22 setelah pencopotan Al-Muttaqi. Pelantikannya berlangsung pada Shafar 333 H dalam usia 41 tahun.

Setahun masa pemerintahan Al-Mustakfi, Amirul Umara bernama Tuzun meninggal. Salah seorang panglimanya yang terkemuka bernama Abu Ja'far bin Syairazad segera diangkat menggantikan posisinya.

Seperti dituturkan Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa', Ibnu Syairazad sangat berambisi terhadap jabatan itu. Bahkan ia sempat mengumpulkan pasukan. Untuk itu, khalifah memberinya posisi penting.

Sementara itu, Panglima Ahmad bin Buwaih yang menguasai wilayah Kirman dan Makram telah maju dengan pasukannya merebut dan menguasai wilayah Ahwaz di sepanjang pinggiran sungai Tigris. Dengan kedudukan itu, ia semakin mendekati Baghdad.

Ketika berita mangkatnya Tuzun sampai ke telinganya, ia bersama pasukannya bergerak menuju Baghdad. Ia hendak merebut jabatan Amirul Umara. Khalifah Al-Mustakfi dan Amir Zairik bin Syairazad terpaksa melarikan diri dari Baghdad. Panglima Ahmad bin Buwaih dan pasukannya menduduki ibukota.

Belakangan Khalifah Al-Mustakfi muncul kembali dan pura-pura menerima kedatangan Panglima Ahmad bin Buwaih. Untuk membuktikan hal itu, ia mengangkat sang panglima sebagai Amirul Umara. Dengan demikian, resmilah Panglima Ahmad bin Buwaih memegang kekuasaan tertinggi dalam Daulah Abbasiyah. Ia pun mengumumkan dirinya dengan panggilan Amir Muiz Ad-Daulah.

Dengan kekuasaan yang dipegangnya, Panglima Buwaih meresmikan wilayah Fars tetap berada di bawah kekuasaan saudaranya dan keturunannya. Ia pun menganugerahkan panggilan untuk saudaranya itu dengan Amir Imadh Ad-Daulah.

Selanjutnya ia meresmikan wilayah Isfahan untuk tetap di bawah kekuasaan saudaranya, Panglima Hasan bin Buwaih beserta keturunannya dan melekatkan panggilan kepadanya dengan julukan Amir Rukn Ad-Daulah.

Dengan demikian, keluarga Buwaih memegang posisi penting yang amat menentukan sejarah Daulah Bani Abbasiyah selanjutnya. Merekalah yang akan mewarnai sejarah dan melakukan perubahan.

Sementara itu, Panglima Zairak bin Syairazad datang menghadap Muiz Ad-Daulah. Dengan kemurahan hatinya, Muiz memberikan jabatan Diwan Jibwatul Amwal (Kepala Jawatan Pajak) kepada Ibnu Syairazad.

Menjelang pengujung 334 H, terbongkar rencana Khalifah Al-Mustakfi yang akan membunuh Amir Muiz Ad-Daulah. Rencana itu disiapkan oleh Qahrimanat Illam yang mendapatkan persetujuan dari sang khalifah.

Muiz Ad-Daulah segera mengirimkan dua orang pembesar dari Jawatan Penyelidik atau Diwan Nuqaba' untuk menyeret sang khalifah dan Qahrimanat ke hadapannya. Sejarah mencatat, betapa Khalifah Al-Mustakfi dan Qahrimanat diseret dari istana dan dibawa menghadap Muiz Ad-Daulah.

Setelah terbukti rencana gelap itu, Khalifah Al-Mustakfi dijebloskan ke penjara. Sedangkan Qahrimanat bin Illam dipotong lidahnya. Khalifah Al-Mustakfi hanya memerintah selama satu tahun empat bulan. Ia masih tetap hidup dalam penjara sampai 335 H dan wafat dalam usia 42 tahun.

Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Al-Muktafi Billah, Khalifah Berhati Luhur

Dia adalah Al-Muktafi Billah Abu Muhammad Ali bin Al-Mu'tadhid bin Amir Abu Ahmad Al-Muwaffaq bin Al-Mutawakkil Alallah (902-908 M). Ibunya orang Turki bernama Jinjaq.

Tak ada seorang khalifah bernama Ali setelah Ali bin Abi Thalib selain dirinya, sebagaimana tak tak ada seorang khalifah pun yang mendapat panggilan Abu Muhammad selain Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hadi dan Al-Muktafi. Secara jasmani, ia termasuk laki-laki yang paling tampan di masanya, bermuka menawan, berambut hitam, berjenggot lebat dan sangat rupawan.

Al-Muktafi Billah lahir pada Rajab 264 H. Ia dilantik menjadi khalifah Daulah Abbasiyah ke-18 ketika ayahnya sakit, pada hari Jumat usai shalat Ashar 19 Rabiul Awwal 289 H, pada usianya yang ke-25. Al-Muktafi hanya memerintah selama 6 tahun 6 bulan 19 hari.

Ketika pelantikan, ia tidak ada di tempat karena sedang berada di Riqqah. Demi berlangsungnya pelantikan, Perdana Menteri Abul Hasan Al-Qasim bin Ubaidillah menggantikan posisinya untuk sementara dan ia mengirimkan surat pelantikan itu kepada Al-Muktafi yang berada di Riqqah.

Al-Muktafi tiba di Baghdad pada 7 Jumadil Ula melewati sungai Dajlah di Samariyah dan merupakan hari yang bersejarah karena ia pernah melewati jembatan di sungai itu berdesak-desakan bersama manusia. Namun Al-Muktafi dapat diselamatkan. Sesampainya di istana, ia disambut para penyair dengan lantunan-lantunan syair.

Pada masa kepemimpinannya yang relatif singkat, ada beberapa kejadian penting yang tercatat dalam sejarah. Pada 289 H, terjadi gempa bumi dahsyat di wilayah Baghdad, dan badai besar di wilayah Bashrah hingga menumbangkan sebagian pohon kurma.

Pada tahun berikutnya, sungai Dajlah meluap mencapai kurang lebih sebelas lengan sehingga kota Baghdad nyaris tenggelam. Pada 293 H terjadi pertempuran antara pasukan Al-Muktafi Billah melawan pasukan Al-Khalanji di Al-Arisy. Pada 295 H terjadi penebusan tawanan kaum Muslimin dari tangan pasukan Romawi, sebanyak tiga ribu kaum Muslimin yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dibebaskan.

Khalifah Al-Muktafi meninggal dunia pada usia yang relatif muda. Ia wafat pada usia 31 tahun pada 7 Dzulqa'dah 296 H, dan ada yang mengatakan tanggal 13 tahun 296 H karena terserang virus babi. Konon ia meninggalkan harta warisan emas senilai seratus juta dinar dan enam puluh ribu helai pakaian. Ia berwasiat agar menyedekahkan hartanya senilai enam ratus ribu dinar yang ia kumpulkan sejak kecil.
Tatkala sakit Al-Muktafi pernah berkata, "Tak ada yang lebih aku sedihkan selain harta kaum Muslimin senilai tujuh ratus ribu yang kupergunakan untuk mendirikan bangunan, padahal aku tidak menghajatkannya dan sama sekali tidak berkepentingan dengannya. Aku khawatir hal ini kelak akan ditanyakan, aku beristighfar kepada Allah atas dosa-dosa itu."

Ia juga meninggalkan delapan putra dan delapan putri. Di antara putranya adalah Muhammad, Ja'far, Al-Fadhl, Abdullah, Abdul Malik, Abdus Samad, Musa dan Isa.

Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Al-Mu'tadhid Billah, Sang Reformator Daulah

Al-Mu'tadhid Billah (892-902 M) dilahirkan pada 242 H. Ibunya bernama Shawab. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H setelah pemerintahan pamannya, Al-Mu'tamid.

Al-Mu'tadhid dikenal sebagai khalifah yang pemberani, berwibawa berpenampilan menyeramkan, dan kaya ide. Jika marah kepada seorang komandan perang, maka ia akan memerintahkan agar orang itu segera dimasukkan ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah. Dia juga dikenal sebagai politikus ulung.

Al-Mu'tadhid adalah sosok yang gagah perkasa, keras pendirian dan dikenal sebagai laki-laki sejati. Dia banyak terlibat dalam peperangan. Keutamaan sikapnya dikenal banyak orang. Pada saat yang sama, ia dikenal sebagai seorang lelaki berwibawa yang menjalankan semua urusan dengan sangat baik.

Orang-orang sangat takut melakukan pelanggaran, sehingga pada masa pemerintahannya berbagai gejolak bisa diredam. Masa pemerintahannya dikenal aman dan baik. Dialah yang membebaskan cukai, menebarkan keadilan dan menindak siapa saja yang berlaku zalim terhadap rakyat.

Al-Mu'tadhid juga disebut "As-Saffah II" karena berhasil membangun kembali Dinas Bani Abbasiyah dengan baik setelah sebelumnya mengalami kehancuran dan kemunduran. Bahkan hampir saja dinasti ini hancur. Pada saat terbunuhnya Al-Mutawakkil, dinasti ini mengalami guncangan yang sangat keras.

Di awal tahun pemerintahannya, Al-Mu'tadhid melarang tegas semua pedagang buku menjual buku-buku filsafat dan yang serupa dengannya. Dia juga melarang para tukang tebak dan tukang ramal yang pandai menipu untuk duduk-duduk di pinggir jalan.

Pada 282 H, Al-Mu'tadhid mengharamkan pesta Nairuz, yaitu pesta api dan penuangan air ke ubun-ubun manusia, dan menghapuskan semua perkara berbau Majusi. Al-Mu'tadhid meninggal pada 289 H.

Joesoef Sou'yb dalam karyanya Sejarah Daulah Abbasiyah II menyebut masa pemerintahannya dengan, "Sairat Hazmin wa bathsyin ma'a hilmin, (sejarah ketabahan dan keperkasaan berpadukan kedermawanan)."

Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Al-Mu'tamid Alallah, Di Balik Bayangan Saudara

Al-Mu'tamid Alallah (870-892 M) dilahirkan pada 229 H. Ibunya berasal dari Romawi bernama Fityan. Tatkala Al-Muhtadi—khalifah sebelumnya—terbunuh, Al-Mu'tamid sedang berada dalam penjara Jausaq. Ia pun dikeluarkan dan dilantik sebagai khalifah ke-15 Daulah Abbasiyah.

Al-Mu'tamid mengangkat saudaranya, Thalhah, yang dalam sejarah dikenal dengan Al-Muwaffaq, sebagai Sulthan (pelaksana kekuasaan) sekaligus Qais (panglima besar). Pada saat yang sama dia mengangkat anaknya, Ja'far, sebagai putra mahkota dan menjadikannya sebagai gubernur untuk wilayah Mesir dan Maroko. Dia memberinya gelar Al-Mufawwidh Alallah.

Pada zamannya inilah terjadi pemberontakan orang-orang Zanj yang memasuki Bashrah dan wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Mereka memasuki Bashrah dengan pedang terhunus, lalu melakukan pengrusakan, pembakaran kota dan penawanan kaum Muslimin. Pada saat itu terjadilah peperangan yang sangat hebat antara kedua pasukan. Komando pasukan tentara di pihak Al-Mu'tamid diserahkan kepada Al-Muwaffaq, saudaranya.

Peperangan melawan Zanj ini berlangsung sejak Al-Mu'tamid menjadi khalifah pada 256 hingga 270 H. Komandan pasukan pemberontak Zanj yang bernama Yahbudz terbunuh. Yahbudz adalah orang yang menolak kenabian Rasulullah Saw dan mengklaim bahwa dirinya mengetahui masalah-masalah gaib.

Pada 260 H, di masa pemerintahan Al-Mu'tamid terjadi kenaikan harga yang sangat fantastis di Hijaz dan Irak. Pada 261 H, Al-Mu'tamid melantik anaknya, Ja'far yang bergelar Al-Mufawwidh Alallah sebagai putra mahkota. Baru setelah itu pada saudaranya, Al-Muwaffaq.

Al-Mu'tamid  memberikan kepada keduanya bendera khusus yang berbeda. Yakni bendera putih dan hitam. Dia mensyaratkan bahwa jika terjadi sesuatu, maka urusan kekhalifahan hendaknya diserahkan kepada saudaranya jika anaknya belum baligh. Dia menuliskan kesepakatan tersebut dan meminta hakim agung, Ibnu Abu Asy-Syawarib, untuk menggantungkannya di dinding Ka'bah.

Pada 278 H Khalifah Al-Mu'tamid meninggal dunia secara mendadak. Ada yang mengatakan ia meninggal karena diracun, ada pula yang mengatakan ia meninggal karena mati lemas di tempat tidur.

Khalifah Al-Mu'tamid memerintah selama 22 tahun. Namun dalam pemerintahannya, ia mendapatkan banyak tekanan dari saudaranya, Al-Muwaffaq, yang menguasai medan politik.

Walau demikian, Al-Mu'tamid sempat menorehkan tinta emas dalam hidupnya. Pada masa inilah muncul para tokoh hadits seperti Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H), Abu Dawud (wafat 275 H), Ibnu Majah (wafat 274 H) dan An-Nasa'i (wafat 302 H).

Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Al-Muhtadi, Khalifah yang Adil

Nama lengkap Al-Muhtadi (869-870 M) adalah Abu Ishaq Muhammad bin Al-Watsiq bin Al-Mu'tashim bin Harun Ar-Rasyid. Ia dilahirkan pada 219 H. Ada yang mengatakan 215 H. Dia dikenal dengan sebutan Abu Abdillah. Ia adalah putra Khalifah Al-Watsiq.

Khalifah Al-Muhtadi termasuk khalifah yang sangat teguh memegang prinsip. Perilakunya baik, murah hati, dermawan, wara', gemar beribadah, dan zuhud terhadap kesenangan dunia. Joesoef Sou'yb dalam Sejarah Daulah Abbasiyah memaparkan ciri khalifah ini dengan kata-kata, "Ia bukan seorang militer akan tetapi seorang ulama yang menyerahkan hidupnya untuk kepentingan agama. Dan sikap hidupnya taat dan wara'."

Pembaiatannya menjadi khalifah ke-14 Bani Abbasiyah terjadi pada Rabu malam bulan Raja 256 H. Peristiwa itu terjadi ketika Khalifah Al-Mu'taz mengikrarkan diri untuk mundur dari tampuk kekhalifahan dan pengakuan terhadap kelemahannya dalam menjalankan roda pemerintahan. Ia lebih suka jabatan kekhalifahan diserahkan kepada orang yang dianggap lebih mampu, dalam hal ini ia lebih percaya untuk diserahkan kepada Muhammad bin Al-Watsiq Billah, atau lebih dikenal dengan sebutan Al-Muhtadi.

Setelah kejadian tersebut, Khalifah Al-Mu'taz segera mengangkat tangan Al-Muhtadi untuk membaiatnya sebagai khalifah, kemudian orang-orang pun mengikuti langkahnya untuk membaiat Al-Muhtadi. Setelah itu ia dibaiat secara khusus oleh Ahlul Halli wal Aqdi dan dibaiat secara massal di atas mimbar oleh rakyat.

Pada akhir Rajab, terjadi peristiwa besar di Baghdad dengan tersebarnya fitnah. Para penduduk mendatangi gubernur Baghdad sebagai perwakilan khalifahnya yang bernama Sulaiman bin Abdullah bin Thahir. Mereka menyerukan kepada gubernur agar segera membaiat Ahmad bin Al-Mutawakkil, saudara kandung Al-Mu'taz. Hal itu terjadi karena para penduduk belum mengetahui peristiwa yang terjadi di Samarra tentang pengangkatan khalifah baru Al-Muhtadi sebagai pengganti Al-Mu'taz.

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Khalifah Al-Muhtadi untuk meminta tolong agar dibebaskan dan dihakimi masalah sengketanya dengan orang lain. Khalifah pun menghukumi dan memberi keputusan kepada keduanya.

Khalifah Al-Muhtadi memberikan putusan dengan begitu adil sehingga salah seorang di antara mereka berucap, "Engkau telah menghukumi dan memutuskan perkara di antara kami dengan wajah yang bersih dan putih berseri laksana rembulan yang bersinar, yang tidak menerima orang yang menyuap dalam pengadilannya dan tidak menghiraukan kejahatan orang yang akan menzalimi."

Tatkala Khalifah Al-Muhtadi mendengar perkataan lelaki itu, ia berucap, "Semoga Allah membaguskan apa yang engkau katakan. Sesungguhnya aku tidaklah mengambil manfaat dari apa yang kau katakan tadi, karena sesungguhnya tidaklah aku duduk di mahkamah ini (hakim) sehingga aku membaca dan menghayati ayat Al-Qur'an ini: 'Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.' (QS. Al-Anbiya: 47)."

Orang-orang pun menangis mendengar ucapannya tadi. Tidak pernah ada orang yang menangis lebih banyak jumlahnya daripada hari itu.

Khalifah Al-Muhtadi biasa melakukan puasa berturut-turut sejak dilantik menjadi khalifah hingga terbunuh. Ia sangat suka mengikuti perilaku Khalifah Umar bin Abdul Azis dalam menjalankan pemerintahan, kewara'an, hidup serba kekurangan, banyak ibadah, dan sangat berhati-hati mengambil keputusan. Ada banyak kesamaan antara Umar bin Abdul Azis dengan Al-Muhtadi.

Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa' memaparkan kisah menarik tentang ibadah Khalifah Al-Muhtadi ini. Suatu malam menjealng Isya di bulan Ramadhan, Hasyim bin Qasim sedang menemani Khalifah Al-Muhtadi. Setelah shalat Isya, sang khalifah mengajak Hasyim makan malam.

Sajian malam itu sangat sederhana. Hasyim mengira setelah makanan itu akan ada lagi makanan lainnya. Ketika hal itu disampaikan kepada khalifah, ia menjawab, "Di kalangan Bani Umayyah ada seorang bernama Umar bin Abdul Azis. Engkau tahu bagiamana ia menyikapi dunia ini? Aku cemburu dengan apa yang dilakukan Bani Hasyim. Maka aku mengambil sikap seperti yang engkau saksikan."

Khalifah Al-Muhtadi wafat pada Senin, 14 Rajab 257 H. Ia hanya memerintah setahun kurang lima hari. Ja'far bin Abdul Malik ikut menshalatkan dan menguburkannya dekat makam Al-Muntashir bin Al-Mutawakkil.

Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Al-Mu'taz Billah, Meninggal Karena Haus

Al-Mu'taz Billah (866-869 M) dilahirkan pada 231 H. Ibunya seorang mantan budak yang berasal dari Romawi bernama Qabihah. Dia dilantik menjadi khalifah ketika Al-Musta'in Billah menyatakan mundur dari kursi khalifah pada 4 Muharram 252 H. Saat itu umurnya baru menginjak 19 atau 20 tahun.

Al-Mu'taz Billah bernama Muhammad. Namun ada pula yang menyebutnya Zubair. Dia biasa dipanghttp://cms.republika.co.id/news/edit/lkcj5jgil dengan Abu Ubaidillah bin Al-Mutawakkil bin Al-Musta'in bin Ar-Rasyid dan merupakan khalifah Bani Abbasiyah ke-13.

Dia berwajah tampan. Ali bin Harb, salah seorang guru Al-Mu'taz dalam bidang hadits berujar, "Saya belum pernah melihat seorang khalifah yang lebih tampan darinya."

Ia adalah khalifah pertama yang menghiasi kendaraan-kendaraannya dengan emas setelah khalifah sebelumnya hanya menghiasinya dengan perak yang sangat tipis.

Pada tahun pemerintahannya, Asynas, orang yang diangkat Al-Watsiq sebagai penguasai Sulthanah, meninggal dunia. Dia meninggalkan harta 500.000 dinar. Al-Mu'taz mengambil harta itu dan mencopot Muhammad bin Ath-Thahir dari kedudukannya. Begitu juga Bugha Asy-Syarabi yang kemudian melakukan pemberontakan dan berhasil dikalahkan oleh Al-Mu'taz.

Pada bulan Rajab tahun itu pula, Al-Mu'taz mencopot adiknya, Al-Muayyad, dari kedudukannya serta memenjarakannya. Al-Muayyad yang waktu itu menjadi Panglima Besar di Baghdad dianggap berbahaya. Ketika diundang ke Samarra, ia ditangkap lalu dijebloskan ke dalam penjara. Di tempat itu ia meninggal lantaran disiksa.

Al-Mu'taz sangat lemah dalam menghadapi orang-orang Turki. Apalagi ketika para pemimpin mereka menemuinya dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kami minta dana untuk memindahkan Shalih bin Washif."

Al-Mu'taz yang sangat takut dengan Shalih bin Washif segera meminta dana kepada ibunya, namun ibunya menolak sedangkan harta di Baitul Mal saat itu telah habis terkuras.

Karena permintaan mereka tak dikabulkan, orang-orang Turki segera membuat kesepakatan untuk mencopot khalifah dari kekuasaannya. Hal ini disetujui oleh pemimpin mereka, Shalih bin Washif dan Muhammad bin Bugha.

Para pemberontak akhirnya menyerang istana khalifah yang saat itu memang tak mempunyai tentara yang kuat lagi, sehingga dengan mudah mereka dapat menangkap Khalifah Al-Mu'taz dan memperlakukannya dengan tidak layak. Mereka memaksa khalifah untuk mengundurkan diri seraya berkata, "Nyatakan olehmu bahwa engkau mengundurkan diri!"

Lalu mereka menghadirkan hakim Ibnu Abi Syawarib dan beberapa orang saksi untuk menyaksikan pencopotan Al-Mu'taz dari kekuasaannya. Kemudian mereka mendatangkan Muhammad bin Al-Watsiq dari Baghdad ke pusat khilafah di Samarra. Akhirnya, Al-Mu'taz menyerahkan kursi khilafah kepada Muhammad bin Al-Watsiq dan menyatakan baiatnya.

Mereka tidak puas hanya dengan pengunduran diri Al-Mu'taz dan pembaiatan Muhammad bin Al-Watsiq. Para pemberontak menyiksa Al-Mu'taz setelah lima hari disingkirkan dari kekuasaannya. Mereka memasukkan Al-Mu'taz ke kamar mandi dan memaksanya mandi hingga waktu yang sangat lama.

Setelah dipaksa mandi, Al-Mu'taz merasa sangat kehausan, namun mereka tidak memberinya minum. Akhirnya, Al-Mu'taz meninggal karena kehausan. Peristiwa tragis ini terjadi pada bulan Sya'ban tahun 255 H.

Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Al-Musta'in, Gagal Menawarkan Perdamaian

Khalifah Al-Musta'in (862-866 M) dilahirkan pada 221 H. Ibunya seorang mantan budak bernama Mukhariq. Al-Musta'in memiliki wajah putih, namun mukanya banyak terdapat bekas cacar. Demikian dituturkan Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa'.

Nama lengkapnya adalah Al-Musta'in Billah, Abu Al-Abbas Ahmad bin Al-Mu'tashim bin Ar-Rasyid yang merupakan saudara Al-Mutawakkil. Al-Musta'in dibaiat menjadi khalifah keduabelas Bani Abbasiyah oleh para komandan pasukan perang setelah meninggalnya Al-Muntashir. Mereka berkata, "Jika kalian hendak menobatkan salah seorang anak Al-Mutawakkil, maka tidak ada lagi yang tersisi dari mereka. Tidak ada lagi keturunan Al-Mutawakkil kecuali Ahmad bin Al-Mu'tashim, salah seorang guru kita."

Al-Musta'in dikenal sebagai orang yang berperangai baik, memiliki sifat-sifat yang utama, sangat fasih berbicara, memiliki wawasan dan pandangan yang cukup luas, baik budi pekertinya, dan dekat dengan rakyat. Al-Musta'in merupakan penggagas pakaian lengan lebar yang luasnya sampai tiga jengkal. Ia adalah khalifah yang pertama kali mengecilkan topi yang sebelumnya berukuran panjang.

Ketika dibaiat menjadi khalifah, usianya baru 28 tahun. Masa-masa emas kekuasaannya hanya berlangsung awal-awal 251 H. Al-Musta'in kemudian membunuh Wazir Washif dan Panglima Begha. Keduanya merupakan pemuka Turki yang sangat berpengaruh saat itu. Begitu juga dengan Baghir yang merupakan pembunuhan Al-Mutawakkil, berhasil diasingkan.

Begitu Washif dan Begha terbunuh, orang-orang Turki sangat marah, sehingga Al-Musta'in memindahkan pusat pemerintahannya dari Samarra ke Baghdad. Orang-orang Turki menyatakan ketundukannya asalkan Al-Musta'in mau kembali ke Samarra. Khalifah Al-Musta'in menolak tawaran tersebut, sehingga orang-orang Turki berniat untuk memenjarakan dan membunuhnya.

Orang-orang Turki mengatur skenario dengan cara mengangkat Al-Mu'taz sebagai khalifah dengan maksud mengadu domba antara dia dan Al-Musta'in. Al-Mu'taz menyiapkan pasukan melawan Al-Musta'in dan rencana ini mendapat dukungan dari penduduk Baghdad.

Pertempuran pun terjadi antara pasukan Al-Musta'in dengan Al-Mu'taz. Pertempuran yang berlangsung selama beberapa bulan itu menghabiskan banyak korban nyawa dan harta di kedua belah pihak. Harga-harga barang melonjak naik, perekonomian pun terpuruk. Sehingga di mana-mana timbul gerakan protes rakyat menuntut pengunduran diri Al-Musta'in.

Mayat-mayat yang bergelimpangan dan tidak segera dikuburkan, menimbulkan wabah penyakit yang menulari para penduduk sekitarnya. Akibatnya,  karena lemahnya dukungan dari rakyat dan disertai dengan peperangan yang terus-menerus melawan Al-Mu'taz, kekuasaan Al-Musta'in sedikit demi sedikit melemah.

Mengetahui kekuasaan Al-Musta'in kian lemah, orang-orang Turki menggunakan strategi baru dengan cara berdamai. Mereka mengutus Ismail, salah seorang hakim yang saat itu ditemani beberapa tokoh masyarakat. Ismail dan kawan-kawannya menetapkan syarat-syarat pengunduran diri Al-Musta'in. Akhirnya, berkat desakan mereka, Al-Musta'in mengundurkan diri pada 252 H. Al-Musta'in dipenjarakan di Wasith, kemudian dikembalikan ke Samarra.

Khalifah Al-Mu'taz yang kurang puas dengan pengunduran diri Al-Musta'in, bermaksud membunuhnya dengan mengutus Ahmad bin Thulun. Namun Ahmad bin Thulun menolak. "Demi Allah, saya sama sekali takkan pernah membunuh salah seorang anak khalifah," ujarnya.

Akhirnya diutuslah Sa'id bin Al-Hajib sehingga Al-Musta'in terbunuh pada bulan Syawwal tahun itu juga.

Sumber : Republika

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More