Sunday, May 15, 2011

Daulah Abbasiyah: Al-Mustadhi Liamrillah, Pembela Rakyat Jelata

Al-Hassan bin Al-Mustanjid bin Billah, demikian nama aslinya. Khalifah ke-33 (1170-1180 M) ini lahir pada 536 H. Ibunya seorang mantan budak asal Armenia bernama Ghadhdhah. Dia dilantik sebagai khalifah saat ayahnya meninggal.

Ibnul Jauzi berkata, "Dia menyerukan agar semua bea cukai dihapuskan dan semua harta yang diambil dengan cara tidak sah dikembalikan kepada para pemiliknya. Dia telah menampakkan sikapnya yang adil dan kedermawanannya yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Dia mengkhususkan harta bagi orang-orang Bani Hasyim dan orang-orang keturunan Ali. Demikian juga untuk para ulama, sekolah-sekolah, dan tempat ibadah. Dia selalu mengeluarkan harta untuk berinfak dan beramal. Di masanya tidak pernah terjadi peperangan."

Khalifah ini dikenal penyabar, hati-hati dan lemah-lembut. Tatkala diangkat sebagai khalifah, dia memberi hadiah kepada para pembesar negeri dan yang lain. Dalam khutbah-khutbah di Baghdad, ia selalu disebut-sebut. Dia memberi uang kepada rakyatnya.

Adz-Dzahabi berkata, "Pada masa pemerintahannya, aliran Syiah Rafidhah melorot di Baghdad dan musnah sama sekali. Penduduk merasa aman dan tenteram. Mereka merasakan kebahagiaan yang luar biasa di masa pemerintahannya. Saat itu para khatib di masjid-masjid di Yaman, Barqah, Tuzur, Mesir hingga Aswan, mengucapkan doa keselamatan untuk khalifah."

Al-Imad, seorang penulis kenamaan berkata, "Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil membuka Masjid Jami' di Mesir pada 567 H, dengan ketaatan penduduknya. Ini merupakan awal diadakannya khutbah Jumat di Mesir bagi Bani Abbas. Bid'ah diberantas, syariah kembali murni. Pada khutbah kedua disampaikan doa untuk Bani Abbas."

Sultan Nuruddin memerintahkan Syihabuddin Al-Muthahhir bin Allamah untuk menyampaikan berita gembira ini ke Baghdad dan ke seluruh wilayah negara Islam. "Segala puji bagi Allah, Dzat yang meninggikan dan mengangkat yang benar serta menyebarkannya, juga menghinakan yang bathil dan merendahkannya. Kini tidak ada lagi mimbar di negeri-negeri kecuali telah mengumandangkan khutbahnya untuk pemimpin kita Amirul Mukminin Al-Mustadhi Liamrillah, dan semua masjid telah melakukan itu. Subur makmurlah sunnah dan hancurlah pilar-pilar bid'ah," kata Nuruddin dalam suratnya.

Pada 569 H, Sultan Nuruddin yang saat itu berkuasa di Damaskus meninggal dunia, sedangkan anaknya yang bernama Ismail masih kecil.

Pada 572 H, Shalahuddin memerintahkan pembangunan tembok besar yang mengitari Mesir. Dalam melaksanakan proyek besar ini, Shalahuddin memerintahkan Amir Bahauddin Qaraqusy.

Ibnu Atsir mengatakan, "Tembok itu sepanjang 29.300 depa. Pada tahun ini pula dia memerintahkan pembangunan benteng Jabal Al-Muqattham, yang kemudian menjadi kediaman sultan. Bangunan ini baru selesai pada tahun ketika Sultan Malik Al-Kamil, salah seorang saudara Shalahuddin, berkuasa. Dialah orang pertama yang menempati kediaman sultan ini."

Pada 576 H, Khalifah Al-Mustadhi meninggal dunia, pada akhir bulan Syawwal. Dia menyerahkan kekuasaaan kepada anaknya yang bernama Ahmad yang bergelar An-Nashir Lidinillah.

sumber : republika

Daulah Abbasiyah: Al-Mustanjid, Sang Pembebas Pajak

Dia dilantik sebagai khalifah Bani Abbasiyah ke-32 (1160-1170 M) pada hari meninggalnya sang ayah, Al-Muqtafi. Nama aslinya Yusuf bin Al-Muqtafi. Al-Mustanjid dilahirkan pada 518 H. Ibunya seorang mantan budak dari Karji bernama Thawus.

Di kalangan sejarawan, dia dikenal sebagai sosok khalifah yang adil dan penuh kasih sayang. Dia membebaskan rakyat dari wajib pajak di beberapa wilayah. Bahkan di Irak, bea cukai tidak berlaku sama sekali. Dia adalah sosok yang keras terhadap mereka yang merusak.

Khalifah Al-Mustanjid pernah memenjarakan seorang laki-laki yang melakukan kejahatan terhadap manusia. Kemudian ada seorang kawannya yang datang untuk menebusnya dari penjara dengan uang sebesar 10.000 dinar. Al-Mustanjid berkata, "Aku akan memberikan uang kepadamu sebanyak 1.000 dinar, dengan syarat engkau tunjukkan kepadaku orang semacam ini sehingga aku menangkapnya dan memenjarakannya agar manusia selamat dari kejahatannya."

Ibnul Jauzi berkata, "Al-Mustanjid memiliki pemahaman tajam, pendapat-pendapat brilian, kecerdasan tinggi, serta akhlak mulia. Dia memiliki sajak-sajak indah dan mengagumkan. Di samping itu, ia juga dikenal memiliki pengetahuan tentang astronomi dan masih banyak lagi."

Salah satu syairnya yang terkenal adalah, "Dia hinakan aku dengan uban, padahal dia tenang selalu. Andaikata dia hinakan aku dengan sesuatu yang menghinaku. Jika rambut di kepalaku mulai memancarkan uban, tidakkah malam yang gelap dihiasi purnama putih."

Di awal pemerintahan Al-Mustanjid, penguasa Mesir, Al-Faiz, meninggal dunia. Dia digantikan oleh Al-Adhid Lidinillah, khalifah terakhir Bani Ubaid. Dalam urusan pemerintahan, Khalifah Al-Mustanjid tak sejalan dengan kebijakan Sultan Sulaiman Syah (1159-1161 M). Hal itu disebabkan Sultan bertindak sewenang-wenang terhadap kalangan bawah, baik terhadap tentara maupun kalangan non-militer.

Kesewenang-wenangan Sultan Sulaiman Syah menyebabkan kemarahan rakyat, khususnya para tentara yang ada di ibukota. Maka pada 556 H, tentara ibukota melakukan kudeta. Mereka menyerbu dan mengepung istana kediaman sultan hingga hancur.

Sepeninggal Sultan Sulaiman Syah, tentara dan rakyat mengangkat Arsalan Syah sebagai sultan. Ia seorang ahli militer dan negarawan yang terpandang. Sultan Arsalan Syah mampu menjalin kerjasama yang baik dengan Khalifah Al-Mustanjid, hingga ia mampu memegang tampuk kesultanan selama 15 tahun.

Khalifah Al-Mustanjid wafat pada 8 Rabiul Awwal 566 H. Ia memegang jabatan khalifah selama 10 tahun. Salah satu kisah menarik dari Al-Mustanjid, sebagaimana yang dikatakan Adz-Dzahabi, bahwa sejak ia sakit ada sinar merah yang terus-menerus memancar di langit dan sinar tersebut bisa dilihat dari tembok-tembok.

Beberapa tokoh yang meninggal pada masa pemerintahan Al-Mustanjid antara lain Ad-Dailami, penulis kitab Musnad Al-Firdaus; Al-Imrani, penulis kitab Al-Bayan dari kalangan Madzhab Syafi'i; Ibnu Al-Bazri seorang tokoh madzhab Syafi'i dari Jazirah Arab; menterinya yang bernama Ibnu Hubairah; Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani; Imam Abu Sa'ad As-Sam'ani dan beberapa tokoh serta ulama lainnya.

sumber : republika

Daulah Abbasiyah: Al-Muqtafi, Sang Reformis Daulah

Abu Abdullah Al-Muqtafi Liamrillah, nama lengkapnya Muhammad bin Al-Mustazhir Billah. Dia dilahirkan pada 22 Rabiul Awwal 489 H. Ibunya berasal dari Ethiopia. Dia dilantik sebagai khalifah Bani Abbasiyah ke-31 (1136-1160 M) tatkala saudaranya dilengserkan.

Saat pelantikannya, ia berumur 40 tahun. Dia diberi gelar Al-Muqtafi karena melihat Rasulullah Saw dalam mimpinya enam hari sebelum menjadi khalifah. Dalam mimpi itu Rasulullah bersabda, "Perkara ini akan sampai di tanganmu, maka ikutilah jalan Allah (iqtafi biamrillah)." Berdasarkan sabda Rasulullah itulah, ia diberi gelar Al-Muqtafi Liamrillah.

Pada 531 H, Sultan Mas'ud mengambil semua kekayaaan khalifah dan tidak meninggalkan apa pun untuknya kecuali sebidang tanah. Sultan bahkan mengirim utusannya untuk meminta uang sebanyak 100.000 dinar dari khalifah.

Al-Muqtafi berkata, "Kami tidak melihat tindakan yang lebih aneh dari tindakan kalian. Bukankah kalian tahu bahwa Al-Mustarsyid telah memberikan semua hartanya untuk kalian dan kalian lihat apa yang terjadi. Setelah itu Ar-Rasyid berkuasa. Dia juga melakukan hal yang sama. Dia pergi dan mengambil semua yang tersisa. Tak ada yang tersisa kecuali alat-alat rumah tangga dan semuanya kalian ambil. Kalian juga mengambil semua pajak, kekayaan dan warisan. Lalu dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?"

Akhirnya sang sultan tidak mengambil apa pun dari istana. Dia kembali mengambil pajak dan harta rakyat dengan cara kasar serta mengambil cukai dari para pedagang. Rakyat merasa sesak dadanya dengan apa yang dilakukan sultan.

Pada 547 H, Sultan Mas'ud meninggal dunia, dan digantikan oleh Malik Syah. Berkenaan dengan kematiannya, Ibnu Hurairah, salah seorang menteri Al-Muqtafi mengisahkan, tatkala orang-orang Sultan Mas'ud melakukan tindakan semena-mena atas nama Al-Muqtafi dan tidak memungkinkan bagi khalifah untuk menyatakan perang dengan terang-terangan, maka diambil keputusan untuk mendoakan Sultan Mas'ud selama sebulan sebagaimana Rasulullah mendoakan Ra'i dan Dzakwan.

Pada 549 H, Az-Zafhir Billah Al-Ubaidi, penguasa Mesir, terbunuh. Sebagai penggantinya dinobatkanlah anaknya yang bernama Al-Faiz Isa yang saat itu masih anak-anak. Sehingga dengan demikian melorotlah pamor kekuasaannya di Mesir.

Membaca kondisi yang baik ini Al-Muqtafi segera mengirim surat kepada Nuruddin Mahmud bin Zanky dan mengangkatnya sebagai penguasa Mesir. Dia memberi wewenang penuh kepada Nuruddin dan memberi gelar Al-Malik Al-Adil.

Kekuasaan Al-Muqtafi pun semakin kokoh dan kuat. Ia mampu memadamkan tindakan-tindakan pembangkangan. Dia berusaha menjadikan orang-orang yang berbeda dengannya agar mendukungnya. Kekuasaannya semakin hari semakin menguat dan kokoh hingga akhirnya dia meninggal dunia pada malam Ahad, 2 Rabiul Awwal 555 H. Khalifah Al-Muqtafi wafat dalam usia 66 tahun setelah memegang jabatan selama 24 tahun.

Ibnu Jauzi berkata, "Sejak zaman pemerintahan Al-Muqtafi, Baghdad dan Irak kembali ke pangkuan para khalifah. Tak seorang pun pesaing yang memandingi kekuasaan khalifah. Sebelumnya, sejak masa pemerintahan Al-Muqtadir, kekuasaan berada di tangan raja-raja kecil—yang disebut dengan sultan. Khalifah di masa itu tak lebih hanya sekedar simbol yang tak memiliki pengaruh."

"Khalifah Al-Muqtafi dikenal sebagai sosok yang sangat pemurah, sangat senang dengan ilmu hadits dan setia mendengarkan pendapat para ahlinya serta penuh perhatian terhadap ilmu pengetahauan. Ia juga sangat memerhatikan para ulama dan ilmuwan," tambah Jauzi.

Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Ar-Rasyid Billah, Khalifah yang Terzalimi

Abu Ja'far Ar-Rasyid Billah, nama aslinya Manshur bin Al-Mustarsyid. Dia dilahirkan pada 502 H. Ibunya mantan budak. Disebutkan bahwa saat melahirkannya sang ibu mengalami kesulitan. Hingga akhirnya dipanggillah para dokter untuk membuka tempat keluarnya bayi. Dan dengan izin Allah, bayi itu berhasil dikeluarkan.

Ar-Rasyid memiliki wajah yang tampan, dan seorang dermawan. Dia dikenal fasih dan berwawasan luas. Ia seorang penyair, pemberani, murah hati, berperilaku baik, adil, dan membenci kejahatan.

Ayahnya menobatkannya sebagai putra mahkota pada 523 H. Ia dilantik sebagai khalifah pada saat ayahnya dibunuh pada Dzulqa'dah 529 H. Ia merupakan khalifah Daulah Abbasiyah ke-30 (1135-1136 M), dan dilantik menjadi khalifah pada usia 27 tahun.

Ar-Rasyid memerintah dalam tempo yang singkat, hanya 11 bulan. Hal itu disebabkan Ar-Rasyid ingin melanjutkan langkah-langkah yang telah ditempuh ayahnya dalam upaya memulihkan wewenang khalifah. Dan hal ini sangat tidak disukai Sultan Mas'ud, hingga mengakibatkan sengketa panjang antara khalifah dan sultan.

Setelah upacara pembaiatan khalifah di Baghdad selesai, Sultan Mas'ud beserta pengawalnya berangkat ke kota Ray. Di kota itu terdapat sebuah istana yang biasa digunakan oleh para Sultan Seljuk untuk bersantai.

Keberangkatan Sultan Mas'ud dengan dikawal pasukannya itu dipandang oleh khalifah merupakan saat yang tepat untuk melakukan surat-menyurat dengan para amir setempat. Termasuk Amir Dawud yang menjabat sebagai penguasai wilayah Azerbaijan dan Imaduddin Zanki yang menjabat sebagai pemimpin Mosul. Amir Dawud sebelumnya adalah seorang sultan, namun karena berselisih dengan Mas'ud, ia diturunkan dari jabatannya.

Ketika Sultan Mas'ud keluar ibukota, saat itulah Khalifah Ar-Rasyid mengundang para amir setempat untuk datang ke Baghdad. Mereka datang dengan membawa pasukan masing-masing. Berlangsunglah perundingan terakhir dan mencapai kesepakatan untuk menobatkan kembali Amir Dawud sebagai sultan menggantikan Sultan Mas'ud. Dalam upacara penobatan itu diumumkanlah pemecatan Sultan Mas'ud oleh Khalifah Ar-Rasyid.

Ketika Sultan Mas'ud mendengar berita pemecatannya dan penobatan Amir Dawud sebagai sultan, bangkitlah kemarahannya. Namun ia masih mampu menahan diri. Ia pun mempersiapkan kekuatan di kota Ray untuk menghadapi pasukan gabungan di ibukota itu.

Akhirnya Baghdad berhasil dikuasai oleh Sultan Mas'ud. Sultan Dawud sendiri dengan pasukannya terpaksa pulang kembali ke Azerbaijan. Sementara Imaduddin Zanki dan Khalifah Ar-Rasyid terpaksa mundur ke Mosul.

Sultan Mas'ud segera mengumpulkan para pemuka masyarakat ibukota beserta pembesar pemerintahan. Dalam majelis itu, dia memperlihatkan supucuk surat yang ditulis dan ditandatangani sendiri oleh Khalifah Ar-Rasyid. Isinya memuat pernyataan pengangkatan Ar-Rasyid sebagai khalifah harus memperoleh restu dan persetujuan Sultan Mas'ud, dengan ketentuan bahwa Khalifah Ar-Rasyid tidak akan menggerakkan suatu perlawanan terhadap Sultan Mas'ud, seperti yang dilakukan bapaknya.

Di antara isi surat itu, "Sungguh kalau aku keluar memerangi salah seorang sultan dengan pedang, maka otomatis aku melepaskan kekhalifahan."

Ketika surat tersebut terbukti keasliannya, maka majelis memutuskan pemecatan Khalifah Ar-Rasyid berdasarkan fatwa qudhat (para hakim) dan fuqaha (para ahli hukum). Yang melaksanakan eksekusi pencopotan khalifah adalah Abu Thahir bin Al-Karkhi, seorang hakim wilayah itu. Lalu mereka beramai-ramai membaiat Muhammad bin Al-Mustazhir, paman Ar-Rasyid. Ia diberi gelar Al-Muqtafi Liamrillah. Peristiwa ini terjadi pada 16 Dzulqa'dah 530 H.

Tatkala berita tentang pencopotan dirinya sampai kepada Ar-Rasyid, ia segera pergi dari Mosul menuju Azerbaijan dengan ditemani beberapa orang. Mereka membawa perbekalan dari Muraghah, kemudian memutuskan istirahat di tempat itu. Baru setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke Hamadzan. Mereka mengumpulkan para ulama kemudian melanjutkan perjalanan ke Isfahan dan menduduki wilayah itu.

Ar-Rasyid menderita sakit keras di Isfahan. Pada saat itulah, sekelompok orang tiba-tiba datang menemuinya. Mereka menyamar sebagai pelayan dan membunuh Ar-Rasyid dengan pisau. Namun para pembunuh ini pun kemudian terbunuh juga.

Peristiwa ini terjadi pada 16 Ramadhan 531 H. Dengan demikian, masa kekhalifahannya hanya 11 bulan 11 hari. Saat kabar kematiannya sampai ke Baghdad, penduduk negeri itu menyatakan bela sungkawa dengan tidak mengadakan aktivitas selama sehari penuh.

Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Al-Mustarsyid Billah, Sosok yang Penyayang

Nama lengkapnya adalah Abu Manshur Al-Fadhl bin Al-Mustazhir Billah. Dikenal sebagai sosok yang mempunyai kepribadian kuat, disiplin, memiliki pemikiran yang cemerlang dan sangat berwibawa. Mampu mengatur masalah negara dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak heran bila ia dicintai rakyatnya.

Al-Mustarsyid dilahirkan pada Rabiul Awwal 485 H. Ibunya mantan budak. Ia dilantik menjadi khalifah Bani Abbasiyah ke-29 (1118-1135 M) ketika ayahnya meninggal pada Rabiul Awwal 512 H.

Ibnu As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi'iyah, mengatakan di awal-awal pemerintahannya Al-Mustarsyid menjadi seorang ahli ibadah. Ia sering menyendiri di tempat ibadah dan memakai kain wol yang kasar. Namanya ditulis dalam mata uang pada 488 H. Khalifah acap kali melakukan koreksi dengan memberikan masukan kepada sekretarisnya.

Berbeda dengan para khalifah sebelumnya yang rela menyesuaikan diri dengan kedudukannya dan bersedia menjadi sekedar lambang kekuasaan. Khalifah Al-Mustarsyid ingin memulihkan wewenang dan wibawa khalifah. Apalagi saat itu ia melihat sengketa antara keluarga Bani Seljuk dan Sultan Mahmud yang memperebutkan jabatan sultan di Baghdad.

Sultan Mahmud lebih banyak berada di luar Baghdad untuk menghadapi lawan-lawan politik yang ingin menumbangkannya. Khalifah Al-Mustarsyid berkesempatan membuat pasukan sendiri di Baghdad dengan alasan menjaga keamanan ketika Sultan Mahmud tidak ada. Belakangan, pasukan itu menjadi kekuatan besar dan tangguh.

Masa pemerintahan Al-Mustarsyid sempat dikotori oleh banyaknya rongrongan dan gangguan dari para pemberontak. Hampir semua pemberontakan yang ada dihadapi langsung oleh khalifah dengan gagah berani tanpa kenal takut. Pemberontakan yang terbesar adalah yang terjadi di Irak di mana akhirnya khalifah mengalami kekalahan.

Pada 525 H, Sultan Mahmud bin Muhammad Malik Syah meninggal dunia. Ia digantikan anaknya yang bernama Dawud. Tak lama kemudian terjadilah pemberontakan yang dilakukan pamannya, Mas'ud bin Muhammad.

Setelah sekian lama berperang, keduanya mengadakan perjanjian damai dan membagi wilayah kekuasaan menjadi dua. Keduanya menjadi raja kecil di wilayah itu. Kemudian Khalifah Al-Mustarsyid menobatkan keduanya sebagai sultan.

Ketika terjadi perselisihan antara khalifah dan Mas'ud, khalifah memeranginya. Saat kedua pasukan bertemu, banyak tentara khalifah yang melakukan pengkhianatan, sehingga akhirnya peperangan dimenangkan oleh tentara Mas'ud. Khalifah bersama para panglima perangnya akhirnya ditawan dalam sebuah benteng di Hamadzan.

Berita tertangkapnya khalifah segera tersiar luas di Baghdad. Banyak penduduk Baghdad yang menyesali tertangkapnya khalifah. Mereka meminta agar sang pemimpin dibebaskan.

Sultan Sanjar mengirimkan utusan kepada saudaranya, Mas'ud, agar membebaskan khalifah. Hal ini didorong oleh protes massal yang dilakukan penduduk Baghdad. Akhirnya Mas'ud menuruti saran saudaranya itu, khalifah dibebaskan dengan syarat mencium bumi dan ia meminta khalifah mengampuni apa yang telah dilakukannya.

Tak lama kemudian, Sultan Sanjar utusan disertai sejumlah tentara. Namun tentaranya disusupi oleh orang-orang dari kelompok Bathiniyah yang bermaksud membunuh khalifah.

Ibnul Atsir menyebutkan, ada 24 orang Bathiniyah yang masuk ke kemah khalifah. Mereka membunuh Khalifah Al-Mustarsyid dengan sadis. Peristiwa itu terjadi pada Kamis, 17 Dzulqa'dah 529 H. Saat itu usia Khalifah Al-Mustarsyid 43 tahun, masa pemerintahannya 17 tahun 6 bulan 20 hari.

Mengenai hal ini ada dua pendapat yang beredar. Pendapat pertama mengatakan, Mas'ud tidak tahu-menahu tentang hal itu dan semuanya di luar koordinasinya. Pendapat kedua mengatakan, Mas'udlah yang merencanakan semua itu untuk membunuh khalifah.

Pasukan penyusup itu kemudian menyerang dan membunuh khalifah beserta para pengawalnya. Kejadian itu tidak sempat diketahui oleh para tentara yang lain. Ketika mengetahui khalifah terbunuh, mereka segera mencari penyusup itu dan membunuhnya.

Sumber : Repubika

Tuesday, May 10, 2011

Daulah Abbasiyah: Al-Muqtadi Biamrillah, Khalifah Abbasiyah Terpandai

Para tokoh terkemuka di Baghdad sempat membicarakan siapa yang akan menggantikan Khalifah Al-Qaim. Pembicaraan itu berlangsung di bawah pimpinan Menteri Nizham Al-Muluk yang mewakili Sultan Malik Syah. Pilihan akhirnya jatuh pada Al-Muqtadi Biamrillah. Hal ini sesuai dengan wasiat Khalifah Al-Qaim sebelumnya.

Namanya Abul Qasim Abdullah bin Adz-Dzakhirah Abul Abbas Muhammad bin Al-Qasim Biamrillah. Ayahnya meninggal saat Khalifah Al-Qaim masih hidup. Saat itu dia masih berada dalam kandungan.

Dia dilahirkan enam bulan setelah kematian ayahnya. Ibunya seorang mantan budak bernama Arjuwan dari keturunan Seljuk. Konon ibunya diberi gelar Qurratu A'yun. Ia sempat menikmati masa pemerintahan anaknya, juga kekhalifahan Al-Mustazhir Billah dan Al-Mustarsyid Billah.

Dia dilantik sebagai khalifah Bani Abbasiyah ke-27 (1075-1094 M) setelah kakeknya meninggal. Saat itu Al-Muqtadi berumur 19 tahun 3 bulan. Pembaiatannya sebagai khalifah dihadiri oleh seorang ulama besar, yaitu Sykeh Abu Ishaq Asy-Syairazi dan Ibnu Shabbaghah Ad-Damighani.

Al-Muqtadi dikenal sebagai sosok yang taat beragama, memiliki perilaku yang baik, jiwa yang kokoh, serta cita-cita dan keinginan yang tinggi. Dia merupakan salah seorang terpandai di antara Khalifah Bani Abbasiyah.

Pada masanya, pondasi kekhilafahan sangat kokoh dan mantap, serta memiliki kehormatan yang tinggi. Satu hal yang sangat jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya.

Di antara hasil kerja baiknya adalah mengasingkan penyanyi wanita dan wanita yang tidak sopan dari Baghdad. Dia juga memerintahkan kepada setiap rakyat agar tidak masuk ke tempat mandi kecuali menggunakan sarung. Dia juga menghancurkan bangunan-bangunan tempat pengawasan orang-orang mandi dengan tujuan untuk menjaga kehormatan orang yang mandi.

Pada 484 H, orang-orang Eropa menguasai pulau Sisilia. Pulau itu sebenarnya merupakan pulau yang berhasil ditaklukkan orang-orang Islam pada tahun dua ratusan Hijriyah. Pada masa itu yang berkuasa di wilayah tersebut aadalah keluarga Aghlab sebelum datangnya Bani Ubaidi Al-Mahdi dari kalangan Syi'ah di Maroko.

Pada 485 H, Sultan Malik Syah datang ke Baghdad dengan rencana jahat. Dia mengirimkan seorang utusan kepada khalifah dengan membawa sepucuk surat, di dalamnya ia mengatakan, "Khalifah harus menyerahkan Baghdad kepada saya, dan pergilah kemana saja engkau suka!"

Khalifah Al-Muqtadi sangat terkejut mendengar ancaman ini. Dia berkata pada utusan itu, "Beri saya waktu sebulan untuk memikirkan permintaannya."

Namun dengan kasar Malik Syah mengirim kembali utusan itu seraya berkata, "Tak mungkin aku tunda walau hanya satu jam!"

Khalifah akhirnya mengirim utusan kepada pembantu Malik Syah untuk menundanya hingga sepuluh hari. Dalam masa penundaan ini, Malik Syah jatuh sakit lalu meninggal dunia. Peristiwa ini dianggap sebagai karomah yang diberikan Allah kepada khalifah.

Disebutkan bahwa dalam masa-masa penundaan itu, Khalifah Al-Muqtadi selalu melakukan puasa. Jika waktu berbuka tiba, ia duduk di atas debu dan mendoakan semoga Malik Syah celaka. Dan Allah mengabulkan doanya, sehingga sultan tamak itu pergi dijemput ajal.

Saat kematian Sultan Malik Syah, istrinya yang bernama Turkan sengaja merahasiakannya. Setelah kematian suaminya, ia mengirim beberapa utusan kepada beberapa pejabat secara rahasia. Dia meminta mereka agar menyatakan sumpah setia kepada anaknya, Mahmud, dan menjadikannya sebagai sultan. Para pejabat pun menyatakan sumpah setia.

Kemudian Turkan meminta Khalifah Al-Muqtadi untuk mengangkat anaknya sebagai sultan. Al-Muqtadi mengabulkan permintaannya dan menggelari Mahmud dengan Nashir Ad-Dunya wa Ad-Din.

Setelah itu, muncul pemberontakan yang dilakukan saudara Mahmud sendiri yang bernama Barkiyaruq bin Malik Syah. Akhirnya Barkiyaruq diangkat sebagai sultan dengan gelar Rukn Ad-Daulah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharam 487 H.

Keesokan harinya, 15 Muharam 487 H, Khalifah Al-Muqtadi meninggal secara mendadak. Disebutkan bahwa salah seorang budaknya yang bernama Syam An-Nahr telah meracuninya.

Setelah khalifah mangkat, ia digantikan oleh anaknya yang bernama Al-Mustazhir. Masa pemerintahan Al-Muqtadi berlangsung selama 19 tahun 8 bulan kurang dua hari. Usianya ketika wafat 38 tahun 8 bulan 7 hari.


Sumber : Republika

Daulah Abbasiyah: Al-Qaim Biamrillah, Dekat dengan Bani Seljuk

Abu Ja'far Al-Qaim Biamrillah, nama aslinya Abdullah bin Al-Qadir. Dilahirkan pada Dzulqa'dah 391 H. Ibunya seorang mantan budak dari Armenia bernama Badar Ad-Duja, namun ada pula yang menyebutnya Qathr An-Nada.

Al-Qaim diangkat sebagai khalifah Daulah Abbasiyah ke-26 (1031-1075 M) pada Dzulhijjah 423 H, bergelar Al-Qaim Biamrillah pemberian ayahnya. Ibnu Atsir berkata tentang Al-Qaim, "Dia adalah lelaki yang tampan, wajahnya rupawan, kulitnya putih kemerahan dan tubuhnya semampai. Dia juga seorang yang wara', taat beragama, zuhud, banyak bersedekah dan memiliki keyakinan dan kesabaran yang tinggi. Dia juga memiliki ilmu yang sangat luas dan mahir dalam bidang tulis-menulis."

Pada 1034 Masehi, terjadi malapetaka dahsyat di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya. Bermula dari gempa besar yang berlangsung hingga 40 hari. Disusul kemarau panjang dan berjangkitnya penyakit menular.

Ketika musibah itu berakhir, Khalifah Al-Qadir dan Amirul Umara Jalal Ad-Daulah bekerjasama melakukan berbagai perbaikan. Semua pihak menaruh hormat kepada Jalal Ad-Daulah. Suasana itu digunakan oleh Jalal Ad-Daulah untuk merombak gelar kehormatannya. Ia meresmikan dirinya dengan panggilan Mulk Al-Mulk (Raja Diraja). Khalifah Al-Qadir tidak keberatan atas hal itu.

Namun ia tak bisa menikmati gelarnya itu. Ia hanya bertahan empat tahun. Pada 433 H, ia jatuh sakit dan meninggal dunia. Jabatannya digantikan oleh Abu Kaliger putra Sulthan Ad-Daulah yang dipanggil dengan sebutan Mulk Muhyiddin.

Pada Dzulhijjah 450 H, seorang berkebangsaan Turki bernama Arsalan yang lebih dikenal dengan sebutan Al-Basasiri, menangkap Khalifah Al-Qaim. Dulunya ia adalah budak Turki yang dibeli oleh Baha Ad-Daulah.

Terjadi pertempuran sengit selama satu bulan di Baghdad antara khalifah dan pasukan Al-Basasiri yang membawa panji-panji pemerintahan Mesir. Al-Basasiri membawa Al-Qaim ke Anah dan memenjarakannya di tempat itu.

Diam-diam, Khalifah Al-Qaim berhasil melakukan surat-menyurat dengan Amir Toghrul Bek bin Mikail dari Bani Seljuk. Dengan pasukan besar, Toghrul Bek segera maju merebut wilayah Khurasan.

Terakhir, ia berhasil masuk Baghdad dan menangkap Mulk Abdur Rahim, putra Mulk Muhyiddin, yang menentang Al-Qadir. Toghrul Bek memasukkan Mulk Abdur Rahim ke dalam penjara hingga meninggal dunia. Dengan demikian, berakhirlah riwayat kekuasaan keluarga Buwaih.

Belakangan karena keberhasilannya itu, Toghrul Bek dianugerahi gelar Mulk oleh Khalifah Al-Qaim. Sejak itu, Panglima Besar keturunan Bani Seljuk ini dikenal dengan Mulk Toghrul Bek.

Namun setelah itu, Arsalan atau Al-Basasiri menulis surat kepada pejabat yang memerintah di Anah agar membebaskan khalifah secara terhormat. Akhirnya, khalifah Al-Qaim kembali menduduki kursi kehormatannya pada 25 Dzulqa'dah 451 H.

Setelah khalifah kembali, Mulk Toghrul Bek mempersiapkan tentara untuk menggempur Al-Basasiri dan berhasil membunuhnya. Setelah pulang dari penjara, khalifah tidak pernah tidur kecuali di tempat ia shalat, dan terus-menerus berpuasa dan shalat malam, memberi ampunan kepada siapa saja yang menganiayanya.

Pada malam Kamis, 13 Sya'ban 467 H, Khalifah Al-Qaim Biamrillah wafat. Penyebabnya adalah keluarnya darah dari hidungnya, dan dia menutup hidungnya dengan agar darah berhenti keluar. Namun ketika tertidur, sumbatan hidungnya terlepas, dan mengalirlah darah yang begitu banyak dari hidungnya. Ketika bangun kekuatannya telah habis.

Khalifah kemudian meminta cucunya Abdullah bin Muhammad untuk menjadi putra mahkota, dan memberikan beberapa nasihat kepadanya. Ia pun menghembuskan nafas terakhir. Al-Qaim menjadi khalifah selama 45 tahun.

Sumber : Republika

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More